UY0EvzZgeEEo4KiQ1NIivy9VYY1PQHFF9n6p7Enr
Bookmark

Lontar Usadha Rsi Bawa Salinan Teks Beserta Terjemahan

Salinan Lontar Usadha Rsi Bawa Beserta Teks dan Terjemahan
Pengantar: Teks lontar Usadha Resi Bawa lebih panjang lebar menjelaskan tentang tenung atau ramalan yang berisi diagnose dan sebab-sebab penyakit melalui hari-hari tertentu ketika orang sakit atau seseorang menanyakan penyakit kepada seorang dukun yang menggunakan pedoman teks ini. Selain itu, memuat sebab datangnya penyakit yang lebih banyak disebabkan oleh kaul leluhur yang belum terbayar sampai saat ini, dan beberapa jenis obat, serta sesajen yang digunakan untuk menghalau penyakit. Selain itu ada mempergunakan alat-alat tertentu untuk meneropong penyakit. Dalam teks ini juga dijelaskan tentang meneropong kehilangan sesuatu yang ditentukan dengan perhitungan hari-hari tertentu.

LONTAR USADHA RSI BAWA

Salinan Lontar Usadha Rsi Bawa Beserta Teks dan Terjemahan
TEKS
1b. Om awighnamastu nama sidhiyang. Ra, tekaning atanya lara, katepuk tegah dening pitra ring marga agung, kajamah tan maleking ring kahyangan, manyama pasah ring pisaganya tukaran, wong wadon lawanya, I Buta Pasangdananjaya anglaranin, laranya: wetengnya lara, teka luwas laranya, tunggal peteng ibuk atinya, nyakitang sirah, petang peteng tingalnya, grah marapah raganya, tan kawasa
 
TERJEMAHAN
1b. Om semoga tidak ada aral yang melintang. Jika hari Minggu datang menanyakan penyakitnya, bertemu dengan leluhurnya di jalan raya, diambil dengan tidak ada di kahyangan, tidak akur dengan tetangga, berseteru dengan perempuan, itu I Bhuta Pasangdananjaya yang menyakiti, ciri sakitnya: perutnya sakit, datang dan pergi penyakitnya, setiap malam merasa sumpek, kepalanya sakit, uring-uringan pengelihatannya, panas membara badannya, tidak mampu

TEKS
2a. mangan nyakitang awak bilang buku, baya gering ika tan kena tinulung, nagih caru ring sanggah kamulan, nasi mawadah lamak, 6, tanding, rakanya biyu pada maiyis, mabesiap mapanggang, sore wehin caru ring sanggah, sambatang I Buta Pasangdananjaya, malih caru nasi, 12, tanding mawadah lamak, mabe siyap selem panggang, 1, marep wetan acaru, ring katah umah sambatang I

TERJEMAHAN
2a. makan, badan sampai ke persendian sakit, itu disebut sakit yang berbahaya dan tidak bisa ditolong, namun itu meminta caru untuk di sanggah kamulan: nasi beralas lamak 6 bagian, masing-masing diisi raka pisang yang diiris, menggunakan daging ayam panggang, pada sore hari dipersembahkan di sanggah, yang ditujukan kepada I Buta Pasangdananjaya, dan juga menggunakan caru yang berisi 12 bagian beralas lamak, dengan daging ayam hitam panggang 1, mempersembahkan caru menghadap ke timur, pada setiap rumah sebut I

TEKS
2b. Buta Mretiyu, muwang acaru nasi mapindan jalema, matatakan don biyu, 3, tugel, ulunya, nasi putih, awaknya tri warna, lima batis kuning, acaru ring natah kahyangan, sambatang I Buta Pamali, anging teduhang ring kahyangan dumun, yan tan teduhang pejah pwa kita, apan gering ika mabuwat pejah. Ca, teka wang atanya lara, saking inuman laranya teka, makawit nginum toya, raris sakit weteng/-

TERJEMAHAN
2b. Buta Mretyu, juga mempersembahkan caru berupa nasi seperti wujud manusia, bealas daun pisang tiga lembar, kepalanya dengan nasi putih, badan dengan nasi tiga warna, tangan dan kaki dengan nasi berwarna kuning, caru tersebut dipersembahkan di Kahyangan, sebut I Buta Pamali, namun lakukan teduhan terlebih dahulu di Kahyangan, jika tidak teduhang dapat menyebabkan kematian, karena penyakit itu sangat berdampak memberikan kematian. Ketika hari Senin orang menanyakan penyakit, dari minuman datangnya penyakit, bermula dari minum air, lalu perutnya sakit,

TEKS
3a. -/nya, manunggek-nunggek kenyat siksikanya, macelos atinya, kata tanpa bayu, tanpa walung manahnya, ring umahnya nagih caru, nasi mawadah suyuk, 2, tanding, mabe bawang uyah areng, ring natah umah acaru. Malih dewa saking desanya amilara, antuk sasangi ring kuna di sanggah kemulan, nama sasangi kumpi di nyama, kumpinya luh, pecak ipun kelangan bawi, 2. Lamun teka ba/-

TERJEMAHAN
3a. menusuk-nusuk dan terasa kaku pada perut bagian bawah, hatinya seperti lepas, kata-kata tanpa tenaga, seperti tanpa penopang perasaannya, oleh sebab itu pada rumahnya memerlukan caru: nasi beralas suyuk 2 buah, berlauk garam areng, tempat melakukan caru pada halaman rumah. Dan lagi dewata dari desanya sebagai sumber penyakit, disebabkan karena kaul masa lalu di Sanggah Kemulan, yang melakukan kaul adalah kumpi yang ada hubungan saudara, kumpi perempuan, karena dulu kehilangan 2 ekor babi. Adapun kata-katanya: “Jika datang

TEKS
3b. bawin tityange maka dadwa, tityang masanggup ngaturang guling, 1, aji, 225, maduluran suci asoroh. Durung katuran utang ika, kanti roras tiban, gelisan rusak sang masasangi, sering pada katagih ring kadangnya, during katauran, mangkana serah kadalem, durung mataur, ada pyanaknya sakit, tigang undag geringe ring kadangnya, apan paweh ring dalem, mangke teduhang ring sanggah kamu/-

TERJEMAHAN
3b. babi saya keduanya, saya bersedia mempersembahkan seekor gulung seharga 225, dilengkapi pula sesajen suci selengkapnya. Namun kaulnya itu belum dipersembahkan sampai dua belas tahun, karena orang yang berkaul sudah tiada, dan hal ini yang sering ditagih kepada keluarganya karena belum dibayar kaulnya, demikian yang semestinya dipersembahkan ke Dalem, namun belum dibayar kaulnya, oleh sebab itu menyebabkan anaknya (keturunannya) sakit, tiga generasi dari keturunannya menderita penyakit, karena semestinya dipersembahkan di Dalem. Sekarang perlu diupacarai peneduh di Sanggah Kamulan,

TEKS
4a. -/lan, raris ka dalem tebusin, ngaturang pajati ring sanggahnya, yan tan teduhang ika pejah pwara kita, apan panyakit I Buta Pamali, lesu, lesu runtag angkihanya, ayang menek tuwun tan arep mangan, ibuk laranya, sarwa sandininya lara, mabuwat tan pejah laranya, ika apan katemah dening dewanya. A, tekanya wang atanya lara, saking alas laranya teka, tu/-

TERJEMAHAN
4a. lalu ke Dalem ditebus dengan mempersembahkan pajati di Sanggah-nya. Jika tidak dilakukan upacara peneduh, itu dapat menyebabkan kematian, karena disebabkan oleh penyakitnya I Buta Pamali, menjadi lemas, napasnya kecil, kondisinya naik turun karena tidak mau makan, bingung penyakitnya, semua persendiannya sakit, namun tidak menyebabkan kematian penyakitnya, itu sebab dikutuk oleh dewatanya. Hari Selasa jika ada orang datang menanyakan penyakit, dari hutan penyakitnya,

TEKS
4b. -/twali kawan laranya, teka luwas laranya, bilang buku laranya, ring paleyokan laranya manunggek-nunggek, buwat laranya, dewanya anglaranin, nagih caru nasi, 6, tanding mabe celeng mapanggang, siyap mapanggang, 1, genahing caru ring margga agung ngarepin sema, malih I Buta Catuspata nyakitin, nagih nasi mapindan jalma atanding, ulunya nasi catur warna tekeng limanya, a/-

TERJEMAHAN
4b. tututwali kawan penyakitnya, datang dan pergi penyakitnya, setiap persendian sakit, pada pinggang sakit menusuk-nusuk, karena ia sakit, dari dewatanya yang memberi sakit, itu meminta caru dengan nasi 6 suguhan berlauk babi panggang, ayam panggang 1 ekor, tempat persembahan caru pada jalan raya yang di depannya ada kuburan, dan juga I Buta Catuspata yang menyakiti, meminta nasi dibentuk menyerupai manusia satu buah, kepala dan tangan terbuat dari nasi empat warna,

TEKS
5a. -/waknya kuning tekeng sukunya, macaru ring natah umah marep nariti, nanging pangadun kumpi ring kuna, pangadun sang masasangi ring kuna, de numadi ngaba lara, kranane masasangi ring kuna, pecak mamitra, madrewe belingan bawu kalih bulan, ika kranane masasangi ring kahyangan, panataranya di desanya: Lamun tityang sadya rahayu, ulung belingan tityange, miwah kari tityang maurip, kari tityang magenah jumah tityange,

TERJEMAHAN
5a. badan dan kaki berwarna kuning, melakukan caru di pekarangan rumah menghadap barat daya, adapun juga yang dilakukan oleh Kumpi terdahulu dengan berkaul mengenai kelahiran supaya tidak membawa derita, itu sebabnya berkaul, sebab berselingkuh dan sampai menyebabkan kehamilan dua bulan, itu yang membawa ia melakukan kaul di tempat suci, pada tempat suci Panataran di desanya. Adapun kata-katanya, “Jika hamba terhindar dari marabahaya dan gugur kandungan ini, dan saya masih tetap hidup, serta saya masih tinggal di rumah saya sendiri,

TEKS
5b. tityang masanggup ngaturang suci asoroh, mabe bebek putih jambul maguling maduluran cendekang akatih mapontang salaka pontang telu. Rawuh odalane riki, durung matawuran utang ika, gelisang rusak sang masasangi, sering katagih, mangke teduhang ring kahyangan panataranya, ngaturang pajati ring sanggah kamulan, hana wonge ring prenah ipeni ya asiki, prenah raramanya di mindon asiki, matungak, sangkanya la/-

TERJEMAHAN
5b. saya sanggup mempersembahkan sebuah sesajen suci berlauk guling bebek putih jambul dilengkapi pula sebuah cendekang ber-pontang perak tiga lingkaran. Sampai hari odalan ini kaul itu belum dibayar, namun kini yang melakukan kaul tiada. Itulah yang sering diminta, kini lakukan upacara peneduh di tempat suci Panataran, juga mempersembahkan pajati di Sanggah Kamulan, ada orang yang berhubungan ipar yang menyakiti, juga ada hubungan sebagai orang tua pada sepupu yang menyakiti, itu tertunda belum terbayar sehingga menyebabkan derita,

TEKS
6a. -/ra, anging munyi telung buku anggonya dosa, kena teluh ya, kena pepasangan ya, suwe waras, mangke anda samayanya, puput juga iya, apan pitranya mamanes kalebang I Buta Kala, yan tan tawurin utang ika, nora waras iya. Bu, tekanya wang atanya lara, ibuk laranya, nyap-nyap, uyang, ngutah, mising laranya, tan kawasa iya mangan, limuh atinya, cliyak-cliyuk, runtag angkihanya,

TERJEMAHAN
6a. namun suatu ucapan dijadikan sebab derita ini, terkena teluh ia, kena benda-benda mistik yang dipasang, lama sekali sembuhnya, sekarang ada perjanjiannya walaupun sudah selesai, leluhurnya masih ditenggelamkan oleh I Buta Kala, jika tidak dibayarkan hutang kaul itu, tidak dapat sembuh ia. Jika hari Rabu datangnya orang menanyakan penyakit, kawatir, gelisah, muntah, mencret, tidak mampu makan, hatinya gelisah, terasa goyah, napasnya tak karuan,

TEKS
6b. Buta Dengan ngalaranin Hyang Widhi anglaranin, nagih nasi, 6, tanding, mabe rumbah gile, nyah-nyah geti-geti, arapin getih matah madaging pisang lebeng, 6, iris, macaru ring prampatan, malih dewanya nyakitin di desanya, antuk sasangi ring kuna, ring dalem desanya, krana masasangi ring kuna, ya salah kadu, ngohopin malegandang, katutugan di margi, prenah pyanaknya di nyama,

TERJEMAHAN
6b. Buta Dengen yang menyakiti dan Hyang Widhi memberi penyakit, itu meminta nasi 6 suguhan, berlauk rumbah gile, nyah-nyah geti-geti, dibalur dengan darah mentah yang berisi pisang matang 6 iris, melakukan caru di perempatan jalan, dan juga dewata di desanya yang memberi sakit, karena ada kaul terdahulu di Dalem desanya, karena berkaul terdahulu, karena ada kesalahan, ia melakukan pemaksaan, sampai diikuti sampai ke jalan, ia adalah seseorang yang hubungan anak di dalam keluarganya,

TEKS
7a. ne luh jumah nyawudang atur ring dalem. Inggih ratu Bhatara ring Dalem, lamun tityang sadya rahayu sanyaman tityange sami, tityang sumanggup ngaturang guling bawi aji, 225, raris tityang nyahagang apisan iriki ring Pura Dalem sareng ajak tityang sami nyama-nyaman tityang, mantu, cucun tityang sami. Munyi ika wajahnya luh, durung katawuran ring Dalem muwang di Puseh, I Buta Pasangdananjaya anglaranin nagih caru ring

TERJEMAHAN
7a. atas kejadian itu istrinya berkaul di Dalem. Wahai paduka Bhatara di Dalem, jika hamba selamat dan daudara kami semua, hamba sanggup mempersembahkan guling babi seharga 225, lalu hamba melakukan persembahan ini sekali di Pura Dalem bersama saudara hamba semua, menantu, cucu-cucu hamba. Ucapan itu dari nenek yang perempuan, namun sampai saat ini belum dibayar di Pura Dalem dan di Puseh, itu akibatnya I Buta Pasangdananjaya menyakiti dan meminta caru di

TEKS
7b. marga ngarepin sema, nasi, 8, tanding mabe siyap brumbun mapanggang, 1, malih nasi wong-wongan atanding, ulunya tri warna, awaknya kuning, sukunya barak, sore wehin caru ring prempatan, anging teduhang dumun di Dalem miwah ring sanggahnya, waras iya. Wre, tekanya atanya lara, makawit labuh laranya, suba makelo laranya, lara ika baya kena tinulung, pakatugtug laranya, wetengnya lara, runtag angkihanya,

TERJEMAHAN
7b. jalan yang di depannya terdapat kuburan dengan nasi 8 suguhan, berlauk ayam brumbun dipanggang 1, dan juga nasi yang berwujud manusia satu suguhan, kepalanya berwarna tiga warna, badannya kuning, kakinya merah. Waktu melakukan caru adalah sore hari di perempatan jalan, namun diturunkan terlebih dahulu di Dalem dan di Sanggah-nya, itu menyebabkan sembuh. Ketika hari Kamis datang menanyakan penyakit, sakitnya bermula dari terjatuh, sudah lama sakitnya, sakit itu sangat bahaya jika ditolong, sakitnya seperti dada berdebar, perutnya sakit, napasnya tak teratur,

TEKS
8a. ngreres laranya, uyang cebar-cebur laranya, lelengedan laranya, kesyab-kesyab laranya, apan kadestyan laranya, kena papasangan, kena ataneman ring marga, iya sedek kayeh, geni pasu mulih nyane nyakitin kulit, daging, layah, gigi, ya ala polahnya anging baan alus, pecak majagilan lawan raramanya ring kuna, ya manglaranin, malih karangnya kena tataneman, ya mapanes ring

TERJEMAHAN
8a. perlahan-lahan sakitnya, sakitnya membuat gelisah, gangguan pada perut, seperti terkejut, semua itu disebabkan oleh dirasuki oleh Desti, kena jimat yang dipasang, jimat yang ditanam di jalan, ia kena ketika sedang mandi, Geni Pasu datang kerumahnya menyakiti kulit, daging, lidah, dan gigi. Itu sangat buruk perlakuannya dengan cara halus, itu semua disebabkan terdahulu oleh orang tuanya, itu yang menyakiti, dan juga pekarangannya diisi hal yang negatif, sehingga menjadi panas sejak

TEKS
8b. kuna karangnya, magenah ring sanggah kamulan, sa, ika daluwang kretas matulis rarajahan Durga Dewi, laranya suba dadi suduk pamali, laranya manunggek mailehan ring awaknya, nagih caru nasi, 12, tanding, mabe siyap brumbun maolah dadi roras tanding, ring natah umah acaru, malih tan meling ring kahyanganya, sering manglinyok ring kahyanganya, ring dewanya, ring panataranya, antuk sasa/-

TERJEMAHAN
8b. dulu pekarangannya. Bertempat di Sanggah Kamulan dengan sarana kertas yang ditulis rajah Durga Dewi, penyakitnya sudah menjadi Suduk Pamali, sakitnya menusuk-nusuk di sekujur tubuh, itu yang meminta caru dengan nasi 12 suguhan dengan lauk ayam brumbun yang dimasak menjadi dua belas suguhan, pada pekarangan rumah melakukan caru. Dan lagi tidak ingat pada Kahyangan, sering ingkar pada Kahyangan, pada dewatanya, pada Panataran-nya, dengan kaul

TEKS
9a. -/ngi ring kuna: Sang masasangi prenah kumpinya marep ring panataranya ring kahyangan, masasangi nuju ring dina buda, u, julungwangi. Mangkana sasanginya, pecak sakit pyanaknya luh, teka uli di carik, kanti solas dina nyakitang basang. Lamun seger pyanak tityange, ilang sakit basangne, tityang ngaturang jarimpen apasang, maruntutan daksina, 1, ring odalane riki, panataran rawuh ne mangkin, durung ka/-

TERJEMAHAN
9a. terdahulu: Orang yang berkaul ada hubungan dengan buyut yang berkaul di Panataran tempat sucinya, ketika berkaul pada hari Rabu Umanis Julungwangi. Demikian kaulnya, yang disebabkan anak perempuannya sakit, datang dari sawah lalu ia selama sebelas hari mengalami sakit perut. “Jika sembuh anak hamba, ilang sakit perutnya, hamba sanggup mempersembahkan jarimpen satu pasang, beserta daksina 1, ketika odalan di Panataran yang akan datang ini. Itu belum

TEKS
9b. -/tawuran, sasangi punika, gelisang rusak sang masasangi, ika nyakitin, mangke tedunang ring panataran muwang adeg semayanya, ngaturang pajati ring sanggah kamulan, miwah di panataran, managih panebusan atma, apan gering ika sarat kasengkalan dening dewa, saulan laranya, apang gelis teduhang, waras iya, apan geringe mabuwatan. Su, tekanya wang atanya lara, pecak ipun masasangi ring

TERJEMAHAN
9b. dibayar kaulnya, karena terlebih dahulu orang yang berkaul tiada, itulah yang menyakiti, sekarang turunkan di Panataran dan hentikan perjanjiannya itu, lakukan dengan mempersembahkan pajati di Sanggah Kamulan, dan di Panataran, juga meminta untuk menebus jiwa, karena penyakitnya itu sangat menyebabkan bahaya yang disebabkan oleh dewa, selama sebulan sakitnya, supaya cepat itu dihentikan, sehingga ia menjadi sembuh, karena sakit ini sangat berarti. Jika hari Jumat orang datang menanyakan penyakit, itu disebabkan oleh ketika melakukan kaul

TEKS
10a. kuna, prenah pyanaknya di nyama, kapendet ia sedek majenukan mabungkung mas, 2, masoca mirah, kanti telung dasa dina ring padesaan, krana nyawudang munyi. Lamun teka pyanak tityange luh tityang masanggup ngaturang paodalan apisan tur makarya pasimpenan gedong sari, gunung agung. Sampun matawur utang ika, naging durung tutug karyanya, kurang upasaksi, kurang rejang, dereng nyandakin,

TERJEMAHAN
10a. terdahulu, ada hubungan sanak keluarga, ia tidak dapat pulang ketika melayat orang meninggal dengan mamakai cincin emas 2 berpermata mirah, sampai tiga puluh hari di desa yang lain, oleh karena itu lalu ada berkaul. “Jika datang anak hamba yang perempuan, hamba sanggup mempersembahkan paodalan satu kali dan membuat bangunan suci pasimpenan gedong sari dan bangunan gunung agung.” Kaul itu sudah dibayar, namun belum tuntas persembahan itu, ada kurang saksi, kurang tarian rejang, dan belum nyandakin,

TEKS
10b. ika amilara, sangkan geringe suwe tan waras, tan tuna sakite ring kadangnya, munyi ika kumpi marep, ika nguninga sasangi, pecak sakitan ring kuna, I Buta Kala Graha nyakitin, wehin caru nasi, 7, lamak, mabe siyap putih, acaru ring natah sanggah, malih caru I Buta Dengen, nasi apangkon, 1, mabe lalasan idupan, talinin ring pangkonan, macaru ring marga ngarepi/-

TERJEMAHAN
10b. itulah yang menyebabkan derita, itulah yang menyebabkan sakit itu lama tidak sembuh, dan tidak berkurang sakit itu pada keluarganya, yang mengucapkan kaul itu adalah kumpi marep, seperti itu ia mengucapkan kaul, serta menyebabkan sakit-sakitan sejak lama. Itu I Buta Kala Graha yang menyakiti, berikan persembahan caru dengan nasi 7 beralas lamak, berlauk ayam putih, melakukan caru di halaman Sanggah, dan lagi dengan caru untuk I Buta Dengen dengan nasi satu pangkon, berlauk lalasan (sejenis kadal) yang masih hidup diikat pada pangkonan, malakukan caru di jalan yang di depannya

TEKS
11a. -/n sema. Malih I Buta Mretyu nagih caru ring pakarangan, nasi wong-wongan, 1, nasi kuning, ulunya tri warna, awaknya, tanganya, sukunya barak, nging pawetwanya, ulunya tri warna, awaknya, tangannya panes tis laranya, grah awaknya, nyakitang sirah kebet-kebet, awaknya bilang buku maluwang, semutan mangancuk-ancuk, saget kebus awaknya, saget tis, kena teluh iya, kena pasangan, ya sedek mangguran di pisa/-

TERJEMAHAN
11a. terdapat kuburan. Lagi I Buta Mretyu yang meminta caru di pekarangan dengan nasi berwujud manusia 1, nasi kuning, kepalanya tiga warna, badan dan tangan berwarna merah, namun keluarnya, kepalanya tiga warna, badan dan tangan panas dingin sakitnya, panas badannya, sakit kepala cenut-cenut, badannya setiap persendian nyeri, kesemutan menusuk-nusuk, tak terduga panas badannya, tiba-tiba dingin, ia kena teluh, kena pasangan, ketika ia berkunjung di tempat tetangga,

TEKS
11b. -/ga, kena tamplikan di langkah-langkahane, kanti tigang dina laranya, mangke tangguhang ring sanggahnya, ngaturang pajati, ayunan putih kuning, peras panyeneng, sasantun, 1, jinahnya, 777, genep tingkah sasantun. Sa, tekanya wang atanya lara, aturu sangkanya lara, bumara ngendusin sakit basangnya tekeng siksikanya, pamali ring umahnya, anglaranin kasambet ring parampatan agung, laranya sirahnya, lara arip lesu tanpa walung, ma/-

TERJEMAHAN
11b. kena imbas pada kakinya, sampai tiga hari sakitnya. Sekarang permaklumkan di Sanggah-nya dengan mempersembahkan pajati, ayunan putih kuning, peras panyeneng, sasantun 1 dengan uang 777, lengkap seperti yang disebut sasantun. Hari Sabtu orang datang menanyakan penyakit, karena tidur awalnya ia sakit, bumara yang mencium sakit perutnya sampai ke perut bagian bawah, ada pamali di rumahnya, yang menyebabkan derita adalah kena kesambet di perempatan jalan raya, sakit kepala, derita mengantuk dan lemas seperti tanpa tulang,

TEKS
12a. -/ngke wehin caru, nasi mawadah lamak, 12, tanding, mabe udang mapalem pada mabesik, sore wehin caru ring natah umah genahing caru. Malih dewa saking desa nyakitin, dewa ring panataran kahyangan, antuk sasangi kumpinya marep, I kumpi luh pecak ipun kadalih ring kuna antuk prenah di nyama, kanti tigang sasih. Lamun mati musuh tityange sane nalih tityang, tityang sanggup ngaturang piodalan apisan tur magong, nga/-

TERJEMAHAN
12a. sekarang berikan caru dengan nasi beralas lamak 12 suguhan, berlauk udang yang di-palem masing-masing satu, lakukan caru pada sore hari di pekarangan tempat melakukan caru. Lagi Dewa dari Desa dan Dewa di Panataran Kahyangan memberi sakit, sebab kaul yang diucapkan oleh kumpi terdahulu, I Kumpi perempuan dahulu pernah dituduh oleh saudara dekat, sampai tiga bulan. “Jika mati musuh hamba yang menuduh, hamba sanggup mempersembahkan piodalan satu kali dan dilakukan dengan besar,

TEKS
12b. -/dayang tajen apisan, tur mangundang pyanak, nyama, cucu, mantu, miwah nyaman-nyaman tityange sami. Durung katuran utang ika, kanti tigang tiban, matine masasangi, ika amilara, tantun geringe ring kadangnya sane nyandang katagih, kena buta iya, kena teluh iya, ring marga agung kena iya, nanging pangadun sama sasangi amilara, pedemanya cacad, madegan salu watang, wehin caru nasi, 12, tanding, mabe siyap panggang, 1, ma/-

TERJEMAHAN
12b. juga melakukan sabungan ayam satu kali, mengundang anak, saudara, cucu, menantu, dan saudara-saudara hamba.” Namun sampai saat ini belum dipersembahkan hutang itu, sampai tiga tahun, lalu ia mati dengan kaul yang belum dibayar, itulah yang menjadi sebab derita, masih penyakit di dalam keluarga yang patut ditagih, dicari oleh Buta ia, ia kena teluh di jalan raya, yang menyebabkan itu adalah kaul, juga karena tempat tidur yang cacat, bertiang salu watang, itu perlu dilakukan caru dengan nasi 12 suguhan, berlauk ayam panggang 1,

TEKS
13a. -/lih caru nasi wong-wongan, 1, ulunya catur warna, awaknya tri warna, limanya kuning, sukunya ireng, genahing caru ring natah umah, nanging wetunya panes, nagih caru pawetwan, mabaju wekasan, apan pametwanya galakin desti muwang pamali. Nihan Resi Bawa ngaran, muwang de sapa ngucap luwirnya: Ra, wetunya lara, Hyang Guru mirudanin, laranya ring ulu, ring mata, ca, nasi, 5, kepel, ulamnya sabulu-bulu, we/-

TERJEMAHAN
13a. lagi dengan caru nasi yang berwujud manusia 1, kepalanya empat warna, badannya tiga warna, tangan berwarna kuning, kaki berwarna hitam, tempat melakukan caru pada pekarangan rumah, namun keluarnya panas, meminta caru pawetwan, menggunakan baju selanjutnya, karena kelahirannya dicari-cari oleh Desti dan Pamali. Inilah Resi Bawa namanya, adapun yang disebutkan, diantaranya: Hari minggu kelahirannya membawa derita, Hyang Guru yang murka, sakitnya di kepala, di mata, adapun sarana untuk menghilangkan derita itu adalah nasi 5 kepal berlauk ayam apa saja

TEKS
13b. -/nang pinanggang, ca, ring Sanggah Kamulan, Sang Buta Mrecu miruda ya, ca, 21, tanding, sata pinanggang, acaru marep kangin, esuk laranya, teka ya dawuh, 5, ebrara laranya teka, meh pejah wang mangkana, laranya mawatuk gumigil, Pitra ngrudaya, ca, nasi wong-wongan, lod desanya, putih ulunya, tri warna awak ya, tangan, sukunya ireng, marep kaja kangin acaru, sawengi, waras iya. Ca , tekaning atanya lara, saking kaja ka/-

TERJEMAHAN
13b. dipanggang, lakukan caru di Sanggah Kamulan, Sang Buta Mrecu yang memberi derita ia, lakukan caru 21 suguhan, ayam dipanggang, lalukan caru menghadap ke timur, ilang deritanya, datang waktu 5, berduyun datangnya derita, sampai-sampai meninggal orang itu, sakitnya batuk sampai menggigil, leluhurnya yang murka, lakukan caru dengan nasi berwujud seperti manusia, di selatan tempatnya, putih kepalanya, tiga warna badannya, tangan dan kakinya hitam, menghadap timur laut mempersembahkan caru, dalam waktu satu malam ia sembuh. Hari Senin orang yang menanyakan sakit, dari timur laut

TEKS
14a. -/ngin panangkanya lara, ring painuman witnya lara, dajan umahnya magawe wisya ika, ring weteng laranya, pamalinan laranya, tur kadurga dewi mirudanin, ca, nasi, 12, tanding, mabe sata pinanggang. Buta Pamali anglaranin, laranya angangsur, ca, nasi, 1, tanding mabe celeng, 1, tanding mapanggang, malih pamali manglaranin, malih pitra wadon anglaran saking kaja kangin, dawuh, 2, teka laranya, ca, nasi wong-wongan, pu/-

TERJEMAHAN
14a. datangnya derita, di tempat minum sumber deritanya, di utara rumahnya yang membuat racun itu, di perut sakitnya, itu disebut sakit Pamali dan Durga Dewi yang membencanai, adapun sarana untuk menghilangkan dengan caru 12 suguhan berlauk ayang panggang. Buta Pamali yang memberi derita, deritanya sesak napas, itu dapat dihilangkan dengan caru nasi 1 suguhan berlauk daging babi panggang 1 suguhan, lagi Pamali yang menyakiti, juga leluhur perempuan yang menyakiti dari timur laut, jam 2 datang sakitnya, hilangkan itu dengan caru nasi yang dibentuk menyerupai manusia,

TEKS
14b. -/tih ulunya, tri warna awaknya, kuning tanganya, sukunya, petang wengi waras iya. A, teka laranya, teka saking alas sangkaning lara, katututan laranya, sula walikaten laranya. Yan liwat saking irika, urip iya, ca, segeh ireng atanding, iwak celeng pinanggang, carukena wang agering. Malih, ca, ring pamuhun, nasi wong- wongan, putih ulunya, awaknya catur warna, acaru marep nariti, telung wengi, waras ya.

TERJEMAHAN
14b. putih kepalanya, tiga warna badannya, kuning tangan dan kakinya, dalam waktu empat malam ia sembuh. Hari Selasa datang sakitnya, datang dari hutan sebab mepnyakitnya, terus menerus sakitnya, Sula Walikaten nama sakitnya. Jika lewat dari sana, hiduplah ia, adapaun perlu melakukan caru dengan Segehan hitam satu suguhan, lauk daging babi panggang, lakukan caru pada orang yang sakit. Lagi dengan caru di tempat pembakaran jenasah dengan nasi berwujud manusia; putih kepalanya, badannya empat warna, melakukan caru menghadap barat daya, dalam waktu tiga malam ia sembuh.

TEKS
15a. Bu, tekanya atanya lara, wetengnya lara, Buta Dengen anglaranin, Dewa Gurunya angawe lara, ya ngaturang guru piduka, saji, ayunan putih, kuning, ca, ring Dengen, suyuk abesik, benya biyu tasak, raka woh-wohan, ca, ring jalan, ring parempatan marep kawuh. Malih nasi, 8, tanding, be siap pinanggang, maduluran nasi wong- wongan, tangan, sukunya kuning, awaknya tri warna, acaru marep kawuh,

TERJEMAHAN
15a. Hari Rabu datang menanyakan penyakit, perutnya sakit, Buta Dengen yang menyakiti, Dewa Guru-nya yang menciptakan derita, ia perlu mempersembahkan sesajen Guru Piduka, Saji, Ayunan Putih Kuning, lakukan caru di Dengen, suyuk satu, lauknya pisang matang, raka dengan buah-buahan; caru di jalan, di perempatan menghadap ke barat. Lagi dengan nasi 8 suguhan berlauk ayam panggang, dilengkapi dengan nasi wong-wongan, tangan dan kakinya kuning, badan tiga warna, lakukan caru meghadap ke barat,

TEKS
15b. sambat Sang Buta Catuspata, petang wengi, waras iya. Wre, teka laranya, sarwa sandi laranya, pakenyednyed laranya, pamali manglaranin, ca, nasi wong-wongan, sirahnya putih, tangan, sukunya tri warna, acaru marep kangin, sawengi waras iya. Su, tekanya lara, bawongnya lara, suku buka impus, ring weteng laranya muwang ngangsur laranya, muwang wong edi anak luh, anu rancana, mi/-

TERJEMAHAN
15b. sebut Sang Buta Catuspata, dalam waktu empat hari ia akan sembuh. Jika pada hari Kamis datang sakitnya, seluruh persendian sakit, menusuk-nusuk sakitnya, itu adalah Pamali yang membuat sakit, adapun sarana penetralisirnya adalah nasi berbentuk manusia, kepalanya berwarna putih, tangan dan kaki tiga warna, melakukan caru menghadap ke timur, dalam waktu semalam ia akan sembuh. Jika pada hari Jumat datang sakitnya, lehernya sakit, kaki seperti diplintir, di perut sakitnya dan napas terhenga-henga, dan orang yang menyebabkan adalah perempuan, karena ada sesuatu yang direncanakan

TEKS
16a. -/lu mamirudanin, muwang Pitra ngrubedanin. Ca, nasi cacahan, 11, tanding, malih caru pangkonan, benya sata pinanggang, sekar pucuk bang, macaru ring sanggah, malih nasi atanding, ulamnya lalasan idupan tegul, macaru ring marga ngarepin sema, malih nasi wong-wongan, ulunya tri warna, tangan, sukunya putih, awaknya ireng, acaru marep kangin, tigang wengi, waras. Sa, teka laranya, aturu sangkanya lara, ke/-

TERJEMAHAN
16a. ikut memberikan derita, dan leluhurnya yang murka. Sarananya adalah nasi cacahan 11 suguhan, juga caru pangkonan, berlauk ayam panggang, bunga kembang sepatu merah, melakukan caru di Sanggah, dan lagi dengan nasi satu suguhan, lauknya lalasan (sebangsa reftil) yang masih hidup diikat, melakukan caru di jalan yang di depannya ada kuburan, lagi dengan nasi berwujud manusia, kepalanya tiga warna, tangan dan kaki putih, badan hitam, melakukan caru menghadap ke timur, dalam waktu tiga hari ia akan sembuh. Jika pada hari Sabtu datang sakitnya, karena tidur datangnya penyakit,

TEKS
16b. -/na pamali, muwang wongeri iya, prenah nyamanya ngawe ala iya, atukar sangkanya lara, baan munyi masengit, daldalanya uli wastra, ikang atungtung sengit, ca, nasi, 12, tanding, benya ayam pinanggang. Malih nasi, 7, tanding, be siyap ireng pinanggang, ca, marep kawuh ring umahnya. Om awighnamastu sidiyang. Nihan Catur Cuntaka, tenung jinah, 40, iki mantranya, ma, Om indah ta kita, kamu hyang asunga patu/-

TERJEMAHAN
16b. kena Pamali, dan juga ada orang yang iri kepadanya, orang yang ada hubungan keluarga yang menyebabkan sakit, konflik yang menyebabkan ia sakit, karena ucapan mencaci, sebabnya dari busana, itulah yang menyebabkan permusuhan, adapun sarana untuk menetralisir adalah nasi 12 suguhan berlauk ayam panggang. Lagi dengan nasi 7 suguhan, lauk ayam hitam dipanggang, melakukan caru menghadap ke barat di rumahnya. Om semoga tidak ada aral yang melintang. Inilah yang disebut Catur Cuntaka, tenung dengan mempergunakan uang kepang 40, seperti ini mantranya: Om wahai engkau yang mengatur segalanya ini,

TEKS
17a. -/duh, ta kita lara sang atakon, Om, sa, ba, ta, a, I, namasiwaya. Wus minantra, pinaro sowang, ika jumput, elingakena sesanya, dewa anglaranin. Hana sasangi ring wayahnya, kapranah uli lanang, di Sanggah Kamulan amangan anginum, marejang tan katuran, kaserah ring Dewa di Puseh, tan ika tawur, kaserah ring Kahyangan, tan ika tawur, tur Bhatari Durga manglaranin geringe jalan-jalan, geringe teka luwas, layu grah mrapah,

TERJEMAHAN
17a. engkau penyakit yang bertanya, Om, sa, ba, ta, a, I, namasiwaya. Setelah mengucapkan mantra, dibagi masing-masing, itu diambil sedikit, ingatlah mengenai sisanya, itu adalah dewata yang memberi sakit. Itu karena ada kaul pada Wayah-nya, yang ada hubungan keluarga dari pihak lelaki, di Sanggah Kamulan makan dan minum, tidak ada persembahan tarian rejang, semua itu yang semestinya dipersembahkan kepada Dewa di Puseh, tidak seperti caranya membayar, dipersembahkan ke Kahyangan, itu tidak terbayar, dan Bhatari Durga memberikan penyakit mematikan yang berkeliaran, sakit yang pergi dan datang, menjadi lemas dan terasa panas membara,

TEKS
17b. panes menek tuwun laranya, hana ring suku kamulanya, menek ring weteng, ka bayu, ring sirah, ring tangan, hana dewa magenah masewaka, kurang bakti, hana Hyang ring gunung, malaku palungguhan, raris managih gotra muwang palaletan, pang Widhine tur Dewane managih maeteh-eteh, mararabu agung, marejang, tur ne dumadi makta lara, teka aturu laranya, uyang atinya, tan kena yeh panglukatan ne dumadi kaparebon ja/-

TERJEMAHAN
17b. sakit panas yang naik turun, ada di kaki asalnya, lalu nauk ke perut, masuk ke tenaga, ke kepala, pada tangan, ada dewa yang terlihat melakukan permohonan, kurang bakti, ada dewata di gunung, berjalan di tempat, lalu meminta keturunan dan palaletan, supaya Widhi dan Dewa meminta eteh-eteh, mararabu agung, pementasan tari rejang, dan yang menjelma bawa derita, datang tertidur deritanya, gelisah, itu karena yang menjelma tidak pernah kena air suci panglukatan,

TEKS
18a. -/mur, tur hana pitra managih munggah maring abu, suwuri kuna, durung tut brata karya, durung ameras putu, kumpi, sangkan geringe suwe waras, hana wonge di wetane umah, hana marebutnya baan karang, druwen wong aturanya, baan liyan anggonya atukar, nyama muwah ipah akeh sabdanya, makreta tan seleng seluk pangalape, mangapit, kaapit, hana papagranya silih suduk, pupug walik sampahang. Sesa,

TERJEMAHAN
18a. ada juga leluhur yang ingin naik pada abu (belum daiben?), suwuri kuna, belum sampai batas brata karya, belum melakukan melakukan meras cucu, kumpi, karena penyakit itu lama sembuh, ada orang di timur rumah yang menyakiti karena berebut tanah milik leluhur, dan dengan yang lain digunakan menukar, sampai-sampai saudara dan ipar banyak omongnya, sehingga saling bertikai, mengapit diapit, ada juga pagarnya yang saling lewati, itu perlu dikembalikan seperti semula. Sisa

TEKS
18b. 2, Dewa di Puseh amilara, hana sasangin wayahnya ulih wadon, ulihnya agring sasangi, amangan nginum, marejang durung katawuran, manikel, tur Pitra nagih munggah ka Gulangalu, durung kaprasida geringe sarwa sandi, dewa ring umah kaprateka, sering manglinyok ring I Daha Dewa, geringe suwe waras, anggihang ring Sanggah, malaku ring Dewa di Puseh, tur iya kena tuju, geringnya dusta, anglayung larane, te/-

TERJEMAHAN
18b. 2 Dewata di Puseh yang memberikan sakit, karena ada kaul leluhur perempuan, karena ia berkaul, dengan pesta makan dan minum, mementaskan rejang belum disanggupi, itu dilakukan sekali, dan leluhurnya meminta naik ke Gulangalu, sampai-sampai belum sembuh sakit yang ada pada persendian, Dewa di rumah di- prateka, sering ingkar kepada I Daha Dewa, penyakit yang lama sembuh, untuk itu permaklumkan di Sanggah, juga kepada Dewa di Puseh, ia itu kena penyakit tuju, penyakitnya karena mendusta, sakitnya loyo,

TEKS
19a. -/busen ring banyu, turnya hana paranya sawah kidul ungguhanya muwang nariti, lana tan halanya. Sesa, 3, mangreges laranya, Buta Dengen bwin nglaranin, mangruguh iya buka suduk-suduk, buka singet uler larane, Buta Banaspati ring umahnya nglaranin, tur apit ring kakebonan, ring sawah durung kadabdab papageranya, silih suduk papageranya, lingkungan lurung, tur pakaranganya sering kempetan, managih caru, matemahan Pama/-

TERJEMAHAN
19a. itu perlu melakukan upacara penebusan pada air, dan pada sawah di selatan dan barat daya, dan tidak ada buruknya. Sisa 3, ciri-cirinya: makin parah sakitnya, itu karena Buta Dengen yang menyakiti, sakitnya terasa berjalan dan seperti ditusuk-tusuk, seperti dipatuk ulat sakitnya, juga Buta Banaspati di rumahnya yang menyakiti, juga apit pada kebun, di sawah belum sempurna pagarnya, saling melewati pagarnya, dikelilingi jalan, dan pekarangannya sering ditutup, itu memerlukan caru, itu yang meminta adalah

TEKS
19b. -/li Banaspati, geringe teka luwas, matehan Pamali Banaspati, geringe, matengah-tengahan geringe, ring suku mulaning lara, kena papasangan ring umah, di kebonan, di carik, hana wong lanang edi kulit dagingnya amilara, kaprenah di misan, ipah hana balu kadalon, edi wetaning umah, gneyaning umah, kidulning umah, lorning umah, pangadun sang masangi kawalunan, pangadun dengen, umahnya managih, ca,

TERJEMAHAN
19b. Pamali Banaspati, sakitnya kadang datang dan pergi, itu adalah Pamali Banaspati, di dalam sakitnya, di persendian awal sakit, itu kena papasangan di rumah, di kebun, di sawah, ada lelaki yang kulit dan dagingnya menyakiti, ia ada hubungan sepupu, ada ipar yang sudah janda/duda tertarik, ia ada di timur rumah, tenggara rumah, selatan rumah, utara rumah. Adapun ucapan orang janda/duda yang berkaul, itu ditujukan kepada Dengen, maka dari pada itu, rumahnya meminta caru,

TEKS
20a. hana wong edi adengen wetengnya, kulon umahnya, lunga anyakitin, Buta Dengen uweh sebeng muwang Pamali amilara, baan kapitan tur satrunya iri ya, ring wayabya anggonya, hanya lanang tunggal aprebut panaban, kulon ungguwanya. Sesanya, 4, katepuk tegeh laranya, anak kabuyutan anglarani, begah-begah laranya wigena Buta Dengen ring pasaban sungkanya lara, gerah mrapah laranya, langu linyun, tur sa/-

TERJEMAHAN
20a. ada orang yang adengan perutnya, di barat rumahnya, ia pergi menyakiti, Buta Dengen dan Pamali yang menyakiti, karena kapitan dan musuhnya iri, di barat laut menggunakan, ia lelaki yang sama merebut panaban, di barat tempatnya. Sisa 4, memperoleh derita yang berat, ada yang disebut anak kabuyutan yang menyakiti, bengkak-bengkak sakitnya itu karena Buta Dengen, panas membara sakitnya, langu linyun, dan

TEKS
20b. -/mayanya baya teka, antenakna sapuluh wegung, sapuluh wulan, kekep dening dewa, baan sasangining wayahnya ring Kahyangan, Bhatari Durgha manglaranin, angaturang bakti, anak kabuyutan apit tur wanya maumah mandengenin, hana sabda sakecap anggenya lara, hana tunggalanya eri, lor umahnya, atukar munya, sabda saparusya, anggenya lara, hana parebut iya karang, wates lurung papageranya anggenya lara,

TERJEMAHAN
20b. perjanjiannya untuk mendatangkan bahaya, terlihat sepuluh wegung, sepuluh bulan, ditutup oleh dewata karena kaul leluhurnya dahulu di Kahyangan, Bhatari Durga yang menyakiti, sujud bakti, anak kabuyutan apit dan berani membangun rumah mandengenin, ada sedikit ucapan yang dijadikan sebab derita, ada kerabatnya yang iri, di utara rumahnya, saling berselisih ucapan, kata-kata yang kasar, itu yang dijadikan sebab derita, ada yang diperebutkan pada pekarangan, batas jalan dan pagar dijadikan sebab derita,

TEKS
21a. oganya aparebut kulit, dagingnya, yan to maman, ipah, nyama, kaponakan, sengit sanget, anggenya geringe kesyab-kesyab tur kambuh sakite, panabanya panes, sawahe wetan, kidul, kulon, padha ngapi kapit, tur ya ngapit pangkung, mapetpet ring panabanya, genah maumah panes, lebah galintung, hana kayu ageng ring pakarangane panes, unggwaning tangan-tangan agantung ring kuna, tur kayu magetih ring karang

TERJEMAHAN
21a. ogan-nya merebut kulit, daging, jika itu paman, ipar, saudara, keponakan, tiba-tiba marah, itu yang menyebabkan sakitnya terkejut dan sering kambuh sakitnya, panaban-nya panas, sawah di timur, selatan, barat, saling mengapit, dan juga mengapit jurang, berhimpitan pada panaban-nya, tempat rumahnya panas, lebah galintung, ada kayu besar pada pekarangan yang panas, karena ada tangan-tangan tergantung dahulu, dan ada pohon berdarah di pekarangan

TEKS
21b. panes, tunggak dunung binacuk, lwaning longan durung rata, bale andung wakulitan, pamali banget manglaranin, karang genah wong mati, kacarik, kacrida tur parampatan, malaku tawur, hana wong teka sada adoh, andengen-dengen sukunya, kena upas tuwanya wadon tunggal, hana titi wus asanggam alor umahnya. Iki tenung Resi Ghana, sa, jembung putih tulus mesi we anyar, raris minantra we ika, ma, Om urip

TERJEMAHAN
21b. panas, ada tonggak yang menusuk, di bagian hulu bawah tempat tidur belum rata, balai yang andung wakulitan, itu pamali yang sangat menyakiti, pekarangan tempat orang meninggal, kacarik, kacrida dan perempatan, melakukan pembayaran, ada orang datang dari jauh, adengen-dengen kakinya, terkena bisa orang tua perempuannya yang tunggal, ada jembatan kecil yang selesai asanggam di utara rumahnya. Ini Tenung Resi Ghana dengan sarana mangkok putih mulus berisi air bersih, lalu diucapkan mantra air itu, mantra: Om hidup

TEKS
22a. sarwa wesi purasani, ingsun mangke nunas kasidyaning tenung, Om sidhirastu tatastu wastu ya nama swaha. Wus minantra, raris pulang madyaning we, tingkah amulang sana mantra, muncuknya marep purwayana, nging yan wawu mulang jawum ika, yan kelem, pejah wang mangkana, yanya kambang, raris tutup jawum ika antuk sakawenang, wus matutup, metu mantra iki, ma: Om tare tare, ture ture, sarwa jagat wicet swaha, Om sidhi mandi tenungku, mantranku ping

TERJEMAHAN
22a. berbagai besi berani, hamba sekarang memohon keberhasilan tenung, Om semoga apa yang dilaksanakan berhasil. Setelah mengucapkan mantra, lalu masukkan ke dalam air, cara memasukkan didasari dengan mantra, ujungnya menghadap ke arah timur, namun jika baru memasukkan jarum itu, jika tenggelam, meninggalah orang itu, jika mengambang, lalu tutup jarum tersebut dengan sarana apa saja, setelah ditutup lalu ucapkan mantra: Om tare tare, ture ture, sarwa jagat wicet swaha. Om semoga berhasil tenungku, mengucapkan mantra sebanyak

TEKS
22b. 7, wus mangkana sakadi ika, wungkab jembung ika, yan marep ersanya, sarwa dewa anglaranin, yan marep utara yana, kadangnya anglaranin, yan marep wayabya, sarwa cetik ngalaranin; yan marep pascima yana, papasangan nglaranin; yan marep nariti, upas ngalarin; yan marep daksina yana, pitara nglaranin; yan marep gneya yana, guna nglaranin, yan kari sakadi kuna jawum ika, genahnya, suwe waras wang agering. Ya/-

TERJEMAHAN
22b. 7 kali, setelah itu lalu buka tutup jarum itu, jika menghadap ke timur laut, berbagai dewata yang memberikan derita, jika menghadap ke arah utara, kerabatnya yang memberi derita, jika menghadap ke barat laut, berbagai racun yang menyakiti; jika menghadap ke arah barat, papasangan yang menyakiti; jika menghadap ke barat daya, bisa yang menyakiti; jika menghadap ke arah selatan, leluhur yang menyakiti; jika menghadap ke arah tenggara, guna-guna yang menyakiti, jika seperti awal posisi jarum itu, lama ia akan sembuh.

TEKS
23a. -/n kalebu jawum ika, aywa wisadanin, wang upakara, bantenya, canang, 4, tanding, beras acatu, jinah, 500, antiga, 1, nyuh, 1, wus matenung canang ika unggahang luhur wong agering we ika anggon ngetisin wong agering, inum, 3, sugyang, 3, rahayu phalanya, mandi sarwa laranya kabeh. Mangkana kojaring tenung iki. Iki tenung lakuning sarwa druwenya ical, a, ical utara yana lakunya, kadangnya wadon ngraksa. Yan ring, bu, dru/-

TERJEMAHAN
23a. Jika tenggelam jarum itu, jangan diobati, orang itu perlu diupacarai dengan canang 4 suguhan, beras satu catu, uang 500, telor 1, kelapa 1, setelah melakukan tenung canang itu diletakkan di atas (tempat tidur) orang yang sakit, airnya digunakan untuk memerciki orang yang sakit, minum 3 kali, digunakan membasuh wajah 3 kali, itu dapat menyebabkan keselamatan, menjadi hilang penyakitnya semua. Demikian yang disebutkan mengenai tenung ini. Ini adalah tenung untuk melacak sesuatu yang hilang. Jika pada hari Selasa hilang, kea rah utara perginya, keluarga perempuan yang membawa. Jika pada hari Rabu

TEKS
23b. -/we ilang, pascima malakunya. Yan ring wre, ilang, purwa yana lakunya. Yan ring, su, alang (ilang?), daksina yana lakunya. Yan ring, sa, druwe ical, ersanya lakunya. Yan ring, ra, ilang, gneyan lakunya. Yan ring, ca, druwe ilang, wayabya lakunya. Nihan tenung angusadanin, yan ring, a, dawuh, 4, dawuh, 3, dawuh, 5, ayu, mandi pwara sira. Yan ring, bu, dawuh, 1, dawuh, 2, dawuh, 7, ayu. Yan ring, wre, dawuh, 6, 8, ayu.

TERJEMAHAN
23b. sesuatu yang hilang, ke Barat arahnya. Jika pada hari Kamis hilang, kea rah timur arahnya. Jika pada hari Jumat hilang, kea rah selatan atahnya. Jika pada hari Sabtu miliknya hilang, kea rah timur laut arahnya. Jika pada hari Minggu hilang, barat daya arahnya. Jika pada hari Senin sesuatu hilang, barat laut arahnya. Inilah tening untuk mengobati. Jika pada hari Selasa, jam 4, 3, dan jam 5, sangat baik, menjadi berhasilah engkau. Jika pada hari Rabu, jam 1, 2, dan jam 7, baik. Jika pada hari Kamis, jam 6 dan jam 8, baik.

TEKS
24a. Yan ring, su dawuh, 1, dawuh, 4, ayu. Yan ring, sa, dawuh, 2, dawuh, 5, dawuh, 6, ayu. Yan ring, ra, dawuh, 8, dawuh, 7, ayu. Yan ring, ca, dawuh, 1, dawuh, 6, dawuh, 5, ayu. Iki tenung tatenger Desti, sa, batok ireng, madaging we anyar, raris mantrain: Om urip sira Wisnu, mungguh tengahing batok ireng, mangke tityang nunas kasidhiyaning tenung desti, Om, Om, Ing, Ah, Om (?), Ung, (tigang windu maardha candra windu). Wus winantra, pasangkena ring genahing atu/-

TERJEMAHAN
24a. ika pada jam 1, 4, baik. Jika pada hari Sabtu, jam 2, 5, 6, baik. Jika pada hari Minggu, jam 8, 7, baik. Jika pada hari Senin, jam 1, 6, 5, baik. Ini tenung untuk mengecek Desti dengan sarana batok hitam berisi air bersih, lalu ucapkan mantra: Om hidup beliau Wisnu, berstana di dalam batok hitam, sekarang hamba memohon keberhasilan tenung Desti, Om, Om, Ing, Ah, Om, Ung, (tiga windu dengan masing-masing memakai arda candra dan windu). Setelah mengucapkan mantra, letakkan di tempat tidur.

TEKS
24b. -/ru. Yanya molah batuk ika, tur wenya buyar uyang, nahen Desti teka, praya mangan wong agring. Yatna juga rahina wengi. Iki tenung palalabaan, nga, pet uriping panca wara, sad wara sapta wara jajar sanga, tibakena muwang tambehan, 23, anom alaba; 4, 5, tengah tuwuh alaba; kaping, 6, 7, kaping beh alaba; kaping, 8, 9, tanpa laba. Iki tenung palalaban, uriping pancawara, saptawara, sadwa/-

TERJEMAHAN
24b. Jika bergerak batok itu, dan airnya bergelombang, itu benar ada Desti yang datang, akan memangsa orang yang sakit. Perlu berhati-hati siang dan malam. Ini Tenung Palalaban namanya, dengan urip panca wara, sad wara, sapta wara dijejer menjadi sembilan, berikan dan tambehan 23, dewasa berhasil; 4, 5, setengah usia berhasil; 6, 7, ke-beh berhasil; ke 8,9, tanpa hasil. Ini Tenung Palalaban, urip pancawara, saptawara, sadwara,

TEKS
25a. -/ra, uriping wateknya, tibakena jinah saka roro aran jinah, ayam, bebek, angsa, sona, celeng, wedus, kebo, sampi. Manih tiba ring ayam, kangelang ngelah gawe. Tiba ring bebek, laba; angsa, laba, nora sasantun. Sona, candala; celeng, laba, wedus nirgawe. Kebo, kaleson. Banteng, rungsing. Nihan tenung kelangan, anuting saptawara. Ra, druwe ilang mitra, mangalap,

TERJEMAHAN
25a. urip watek-nya, berikan uang masing-masing dua, namanya uang: ayam, bebek, angsa, anjing, babi, kambing, kerbau, dan sapi. Andai sampai pada ayam, berlimpah memiliki pekerjaan. Jika sampai pada bebek, berhasil; angsa, berhasil, namun tanpa sari. Anjing, terhalang; babi, berhasil; kambing, tanpa hasil pekerjaan. Kerbau, terlupa/kehilangan gairah. Sapi, rungsing. Inilah Tenung Kehilangan menurut saptawara. Jika hari Minggu milik hilang, yang mengambil adalah teman,

TEKS
25b. den kekep ring alas, luhuring lemah, wong laki manikul, talinganya, sunggar rambutnya, kanda lambenya, bengah awaknya, warnanya carinca awaknya, bisaya. Yan kebo, sampi ilang, a, paranya, pinggiring awaknya. Yan nulu minggat, paparahanom, antekana, 4, wengi, yan teka, kejang ya, ca, drewe ilang, wong wadon mangalap, welut socanya, repi awaknya, ai paranya, mareki umahing wong, sranta suwe

TERJEMAHAN
25b. disembunyikan di hutan, di atas tanah, lelaki yang memikul, ciri-cirinya agak berdiri rambutnya, kanda mulutnya, agak gemuk tubuhnya, terlihat carinca badannya, ia mungkin. Jika kerbau dan sapi yang hilang pada hari Selasa, itu bisa terdapat di samping badannya. Jika pergi, paparahanom, jika tidak datang sampai 4 hari, jika datang, kejang ia, ca, milik hilang yang mengambil adalah perempuan, welut matanya, agak kurus badannya, ai namanya, mendekati rumahnya orang, sranta lama

TEKS
26a. ya teka. Yan kebo, sampi ilang, nereti paranya, ring jurang pinggiring awan, mati ya. A, druwe ilang, wong wadon mangalap, bang bang awaknya, welut socanya, rengkuh lemes romanya, tatah-tatah sidhi gawe, ilang ya, yan nulu minggat, ai paranya, pinggiring awan. Bu, druwe ilang, wong lanang mangalap, pacari anggane, lemas romanya, welut socanya, akas rambutnya, alon warnanya, agung wetengnya,

TERJEMAHAN
26a. ia datang. Jika kerbau dan sapi hilang, di barat daya, di jurang tepi sungai, ia mati. Pada hari Selasa sesuatu hilang, perempuan yang mengambil, agak kemerah- merahan badannya, welut matanya, agak lembut rambutnya, tatah-tatah apapun yang dikerjakan berhasil, hilang ia, jika cepat pergi, ai namanya, di tepi sungai. Ketika hari Rabu sesuatu hilang, lelaki yang mengambil, pacari badannya, lembut rambutnya, welut matanya, pendek rambutnya, lembut perilakunya, besar perutnya,

TEKS
26b. liwat petang wengi, ilang ya, yan nulu minggat, rupanya pinangan. Wre, druwe ilang, wong lanang mangalap, rempi awaknya, semu suweta warnanya, abang candranya, kandil idepnya, agung sukunya, umahnya lor kamulaning wadon, daga iwak, wehana don, para kawon suwe katemu. Yan sampi, kebo ilang, pascima paranya pareking awan. Su, druwe ilang, wong wadon mangalap, sweta warna/-

TERJEMAHAN
26b. lewat empat hari, ia hilang, jika dicari kepergiannya, ternyata ia makan. Ketika hari Kamis sesuatu hilang, lelaki yang mengambil, kerus badannya, agak putih orangnya, merah candranya, kandil pikirannya, besar kakinya, rumahnya di utara kemulan orang istri, daga iwak, berikan don, orangnya sulit ketemu. Jika sapid an kerbau hilang, di barat dia berada dekat. Hari Jumat sesuatu hilang, perempuan yang mengambil, putih kulitnya,

TEKS
27a. -/nya, welut sicanya, pascima umahnya, yan nulu minggat, nariti paranya, parek talaga, meh katemu ya. Sa, druwe ilang, wong wadon mangalap, daksina umahnya, a, masagi pangadegnya, jemprong muwanya sada bang, yan nulu minggat, ersanya paranya, marep purwa umahing wong. Yan sampi, kebo ilang, pascima paranya, pinggiring banyu, ewuh ya katemu.

TERJEMAHAN
27a. welut matanya, di barat rumahnya, jika mencari kepergiannya, ke barat laut ia, dekat kolam, bisa-bisa dapat ditemui ia. Hari Sabtu sesuatu hilang, perempuan yang mengambil, di selatan rumahnya, masagi badannya, besar mukanya agak merah, jika mencari kepergiannya, kea rah timur laut ia, menghadap ke timur rumahnya itu. Jika sapid an kerbau hilang, ke barat perginya, di tepi air, sangat sulit ditemukan. Ini Tenung Sundari Terus namanya, sebagai wujud manusia menurut

TEKS
27b. -/ptawara, nga. Ra, kajumput modangan lanang, yan wadon, muput ring pamulunya, sebaha warnanya, ambeknya marengang, malaksana doyan macacolongan, gawene abang wilidah. Ca, kajumput, gung amasagi, andap malanya, angrong romyak, pradnya prehi waya, tisayanya manis pangucapnya, kakence ilad-ilad, lanji ya ring luh pregawe mangurengut ring atine. A, kajumput, pawa/-

TERJEMAHAN
27b. saptawara. Hari Minggu modangan lelaki, jika perempuan, muput pada kulitnya, sebaha wujudnya, sikapnya sembrono, perilakunya suka mencuri, apa yang dilakukan bersilat lidah (?). Hari Senin diambil, besar amasagi, rendah buruknya, angrong romyak, pintar prehi waya, ucapannya manis, kakence ilad-ilad, menarik di mata perempuan dan apa yang dikerjakan membuat orang tertarik. Jika Selasa diambil, badannya

TEKS
28a. -/kanya aduwur, kaya ngindang pamulanya, akuning sada bang warnanya, ambenya kabeh tan karep gawene, adolnya atuku malane, lalangu wong lanji. Buka jumput, agung alemuh, aborongkol, jenar nguranta, ambeknya sorongkol, singkare budi nugi, rara weteng kasusuban, gawene awitan pipis. Wre, kajumput, sore anawur, manengah abecik pamulunya angambang papulu/-

TERJEMAHAN
28a. tinggi, seperti terbang sosoknya, kuning agak kemerahan rupanya, ambenya banyak tidak ingin bekerja, deritanya ketika jual beli, lalangu orang yang laris. Seperti diambil, besar dan lembut, aborongkol, kuning nguranta, sikapnya sorongkol, singkare budi nugi, sakit perut seperti tertusuk sesuatu, kerjaannya berhubungan dengan uang. Hari kamis diambil, sore membayar, sedang dan bagus kulitnya, kambang papulutan

TEKS
28b. -/tan ring akarma, gaweni amulak-malik pretiwi, sida wanining wong, sida kaweruhanya. Su, kajumput, tan agung tan alit, manengah abecik ambekanya, masang akarmaning dadalaning lawang, wang lanji gawe atondan. Sa, kajumput, pawakanya agung arempi, gawene asewaka bang bang awak warnanya celo doyanya cacolongan, ameweh pada sekarang larane agung. Nihan tenung tekanya gering, kangetakna panca

TERJEMAHAN
28b. ketika melakukan sesuatu, perilakunya membolak balik tanah, orang bisa berani, pintar. Hari Jumat diambil, tidak besar tidak kecil, menengah dan bagus perilakunya, memasang akarmaning sebabnya pintu masuk, orang yang lanji melakukan atondan. Sabtu diambil, badannya agung arempi, perilakunya asewaka merah-merah badan celo dan suka mencuri, bertambah sampai saat ini sakitnya besar. Inilah Tenung datangnya sakit, ingat panca

TEKS
29a. wara, u, Bhatara Guru, nglara, sa, ruwaning naga sari, sulatri pendem muwah, sa, juwuk linglang, wedanya; ca, sarwa suci ring awang-awang enggoning acaru. Malih sekul putih, siyap putih, raka sarwa suci mawadah talujungan, macaru ring natah marep wetan. Pa, Brahma nglaranin, toya bayu, caru rumbah gile ring lebuh acaru, tumpeng abang asiki, ayam buwiklawuk klawu, ca, ring Paibon, wadah tunggil kadi

TERJEMAHAN
29a. wara, Umanis, Bhatara Guru yang memberi penyakit. Sarana: daun naga sari, sulatri pendem dan sarananya juga juwuk linglang, wedanya; Dengan caru, berbagai suci di awing-awang melakukan caru. Lagi dengan nasi putih, ayam putih, raka aneka yang suci beralas talujungan, melakukan caru di pekarangan menghadap ke timur. Paing, Brahma yang memberikan penyakit, air bayu, dengan caru rumbah gile di pintu pekarangan rumah melakukan caru, tempeng merah satu, ayam buwiklawuk klawu, lakukan caru juga di Paibon dengan alas yang sama seperti

TEKS
29b. arep, ta, sa, baas wedakena. Pwa, Pitara mirudaya, sa, bubuh sumsum manyahnyah, raka sarwa suci, tunggal wadahnya kadi arep, ring setra acaru, ta, lumurudnya, sa, dapdap tis, Om tahulan matahulan, apan aku putun Sang Antaboga, waras dening idup putih, muwah, sa, celebingkah wedakna. Kacarik ring lebuh, ca, sambel muwang garem dadi awadah, tumpeng bang,

TERJEMAHAN
29b. sebelumnya. Obatnya dengan sarana beras yang dijadikan lulur. Pada Pon, leluhur yang menyakiti, adapun sarananya: bubur sumsum yang disangrai, raka berbagai suci, sama alasnya seperti yang sebelumnya, lakukan caru di kuburan, obati dia dengan cara diurut dengan sarana dapdap tis, Om tahulan matahulan, karena aku adalah cucu Sang Antaboga, sembuh karena hidup putih, dan sarananya berupa celebingkah yang dijadikan lulur. Jika kacarik di pintu pekarangan rumah, adapun obatnya adalah garam jadikan satu alas, tumpeng merah

TEKS
30a. 2, ayam wiring, 1, tumpeng injin, 1, ayam ireng, 1, rakanya kadi arep wadahnya, lumurudnya siliguwi muwah, sa, carman dapdap, bala, sulasih, adas, wedaknya. Ka, putih kuning, sawung goreng, rakanya kadi arep wadahnya, ta, nyuh gadang, sulasih, adas. Nihan tenung astawara, elingakena: u, tekaning lara, karajang Buta ring laba, ca, ayam pinanggang, sambat Buta Si Mangumangu, Si Begala, Si

TERJEMAHAN
30a. 2, ayam merah 1, tumpeng ketan hitam, ayam hitam 1, raka beralas seperti sebelumnya, obat urutnya dengan siliguwi, kulit pohon dapdap, bala, sulasih, adas, jadikan lulur. Keliwon (?), putih kuning, telur goreng, raka alasnya seperti sebelumnya, obatnya adalah kelapa hijau, sulasih, dan adas. Inilah Tenung Astawara, ingatlah: Jika saat Uma datangnya sakit, diserang Buta di laba, adapun carunya dengan mempergunakan ayam panggang, sebut Buta Si Mangumangu, Si Begala, Si

TEKS
30b. Begali. Sri tekaning gering, Pitara manglaranin, ca, bubuh pirata, aja winaseh ring arep mabanten, 1, tekaning gering, karaja buta ring awak agung, ca, cambra bang bungkem ingolah manca desa mawadah lamak, sambat Si Diyarasaka, nga. Gu, tekaning gering, tuwan ring pomahan nglaranin, ca, sawung panggang mawadah tamas, soring padengenan acaru, sambat Si Panca Kalima. Ya, tekaning gering, Bhatara Desa ngla/-

TERJEMAHAN
30b. Begali. Jika Sri datangnya sakit, leluhur yang menyakiti, adapun carunya dengan bubur pirata, jangan dibasuh di hadapan melakukan ritual 1, datangnya sakit, karaja buta di badan yang besar, dengan caru anjing bang bungkem yang diolah menjadi lima bagian menurut perhitungan arah mata angin beralas lamak, sebut Si Diyarasaka namanya. Jika saat Guru datangnya sakit, orang tua di keluarga yang menyakiti, adapun carunya dengan telor panggang beralas tamas, di bawah Padengenan melakukan caru, sebut Si Panca Kalima. Jika saat Yama datangnya sakit, Bhatara Desa

TEKS
31a. -/ranin, ca, cambra bang bungkem ingolah den asangkep, sambat Sang Buta Siyu, kauka, Si Nadahan Si Nasi Daging Matah, Si Karang Sungsang, Si Dengen Nreti. Lu, tekaning gering amastunggal babuyut, ca, sarwa suci, ketan bang, ketan ireng, puspa, lenga putih, ijo, soring tretepan caru, sambat Sang Pulung Rasa, myadi sera. Bra, tekaning gering, Bhatara Jananglara, ca, cambra bang bungkem, sata ireng, winangun urip, acaru ring

TERJEMAHAN
31a. yang memberikan sakit, lakukan caru dengan anjing bang bungkem yang diolah dengan lengkap, sebut Sang Buta Siyu, panggil Si Nadahan, Si Nasi Daging Matah, Si Karang Sungsang, Si Dengen Nreti. Jika saat Ludra datangnya sakit, itu karena pastu dari buyut, lakukan caru dengan berbagai yang suci, ketan merah, ketan hitam, puspa, wijen putih, ijo, di bawah tretepan melakukan caru, sebut Sang Pulung Rasa, myadi sera. Jika saat Brahma datangnya sakit, Bhatara Jananglara, caru dengan anjing bang bungkem, ayam hitam yang di-winangun urip, melakukan caru di

TEKS
31b. natar. Ka, tekaning gering sasanginya tan katawuran, pangantunganing sot, lawe, 5, suruh putih, ijo, jambe tan pinalih, tatelu sowang, lambanan banten, ancata kinaweruhaken. Nihan kaweruhakena metu bagya, lara muwang pati urip tri pramana, nga, panca sadasta kaweruhakena kabeh, yan rare pinahitang, jinah sinudaksaka, 2, sesa, 1, geng urip, geng laba; sesa, 2, baya kina ti/-

TERJEMAHAN
31b. pekarangan. Jika saat Kala datangnya sakit, itu disebabkan oleh kaul yang belum terbayar, adapun untuk menghapus perjanjian itu, lakukan dengan sarana benang lima helai, sirih putih, hijau, buah pinang yang tidak dibelah, masing-masing tiga, lambanan banten, itu yang perlu diketahui, muncul bahagia, derita dan hidup mati tri pramana disebut Panca Sadasta yang diketahui semua, jika anak pinahitang, uang sinudaksaka 2, sisa 1, besar kehidupannya, besar hasilnya; sisa 2, terkana marabahaya

TEKS
32a. -/nulung tan bagya, suka duka, nirsesa, mati tanpa laba. Wus bisa babed jinah tri murti, sesa, 1, geng urip, geng laba; sesa, 2, baya kena tinulung tanpa laba, suka duka; nir sesa, mati tanpa laba. Nihan ingaran sapta tirtha ring bwana sarira; dharma datitha, nga, maha suci. Sindhu Tirtha idep, Ghangga Tirtha, nga, mulakanta. Saraswati tirta, jiwa, nga, Erawa Tirtha, nga, dayanya. Srestistenadi Tirtha, kuping, nga. Siwa Tirtha,

TERJEMAHAN
32a. jika ditolong tidak bahagia, suka duka, tanpa sisa, mati tanpa hasil. Setelah diikat uang tri murti, sisa 1, panjang usia, besar hasilnya; sisa 2, bahaya jika ditolong tanpa hasil, suka duka; jika tanpa sisa, mati tanpa hasil. Inilah yang disebut tuju air suci yang terdapat dalam diri; Dharma Datirtha namanya, sangat suci. Sindhu Tirtha adalah pikiran, Ghangga Tirtha adalah mulakanta. Saraswati Tirtha adalah Jiwa, Erawa Tirtha adalah dayanya. Srestitenadi Tirtha adalah telinga. Siwa Tirtha adalah

TEKS
32b. nga, wunwunan, mangkana sapta tirtha ring bwana sarira. Nihan pidartanya manih, ring mula, nga, pupusuh, Hyang Sangkara dewanya, wijil ring tuwuk. Muwang Bhatara Iswara kapiolasen wijil nira. Nihan manih pidartanya, hana ika mahawanadi, nga, netra kiwa tengen, muwang dadi sahananing manusa, nan pawaka wreah urip muwang arane idep; pati, nga, cita, nga, tutur duke ring purwa, urip; aturu, nga, antapati, ika dadi

TERJEMAHAN
32b. ubun-ubun, demikian tujuh air suci yang terdapat dalam badan. Inilah keterangannya lagi, pada permulaan, yakni jantung, sebagai dewanya adalah Hyang Sangkara, keluar di tuwuk. Dan juga karena kasihan Bhatara Iswara keluar. Ini lagi keterangannya, ada itu yang disebut mahawanadi adalah mata kiri dan kanan, dan menjadi berbagai manusia, yang berwujud kehidupan dan yang disebut pikiran; kematian adalah cita. Cita adalah tutur ketika permulaan, kehidupan; tertidur artinya antapati, itu menjadi

TEKS
33a. buwana kabeh. Malih tingkah sakeng pati, sakeng desanta, malih kadesane jenek, kengetakna sanak ta kabeh genah matakon dening sana. Puput. Kasurat olih: I Wayan Sudarsana, ring Singaraja, duk rahina Saniscara Kliwon, wuku wangi, sasih kalima, Isaka: 1910.

TERJEMAHAN
33a. semua dunia. Lagi tata cara dari kematian, dari asalnya, lalu ke asalnya kembali, ingatlah saudaramu semua dimana sebagai tempat untuk bertanya. Selesai. Ditulis oleh I Wayan Sudarsana dari Singaraja, pada hari Sabtu Kliwon wuku Julungwangi, bulan kelima dalam tahun Saka 1910.


Sumber: Lontar Taksu